Laporan Akhir


April 2020

ID

Transkrip laporan proyek Koalisi Satu Hati dalam upaya pengobatan Hepatitis C di 7 Lapas Jakarta

Pada 2019, Gilead bermitra dengan Yayasan Koalisi Satu Hati sebagai pelaksana proyek, untuk mendanai bersama dengan Pemerintah Indonesia, dalam program eliminasi mikro virus hepatitis C di 7 penjara dan pusat detensi di Jakarta.

Yayasan Koalisi Satu Hati didirikan sebagai organisasi nirlaba, terdaftar secara hukum di Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia di Indonesia pada tahun 2018, oleh orang-orang yang hidup dengan HIV dari populasi kunci yang berbeda: pengguna narkoba, perempuan dalam kelompok risiko rendah, dan laki-laki berisiko tinggi. Misinya adalah untuk mendukung orang yang terkena dampak dan terinfeksi oleh HIV, hepatitis virus dan orang koinfeksi di Indonesia melalui pendidikan, advokasi, pemberdayaan dan pengembangan kapasitas. Mempromosikan kemandirian, kesehatan dan kesejahteraan orang yang hidup dengan dan terkena dampak HIV dan AIDS, dan hepatitis virus.

Pemerintah Indonesia juga telah meningkatkan daya tanggapnya terhadap virus hepatitis, sebagaimana dinyatakan oleh penciptaan Sub Direktorat yang didedikasikan untuk hepatitis pada Oktober 2016.

Eliminasi hepatitis C di penjara akan membutuhkan perencanaan besar-besaran, termasuk anggaran dan strategi implementasi. Oleh karena itu eliminasi mikro dalam skala yang lebih kecil lebih layak upaya dan pelajaran yang didapat dapat ditiru di provinsi lain. Dalam upaya awal ini, sebuah Program eliminasi dilaksanakan di wilayah Jakarta.


Sebanyak 16.062 narapidana (Tabel 1) di 7 penjara dan pusat penahanan di Jakarta disaring untuk antibodi anti-HCV menggunakan kit tes diagnostik cepat yang disediakan oleh Pemerintah Indonesia Indonesia. Penyaringan dilakukan di fasilitas pemasyarakatan antara Juli-Agustus 2019

Tabel 1: Jumlah, persentase dan hasil antibodi anti-HCV dari tahanan yang diperiksa berdasarkan lokasi

LokasiJumlah tesPersentase total tesAnti HCV negatifAnti HCV positif
Lapas Cipinang Kelas I
2,255

14.0

2117

138
Lapas Narkotika Kelas IIA
2,004

12.5

1813

190
Lapas Pondok Bambu Kelas IIA3282.03226
Lapas Jakarta Pusat Kelas IIA Salemba1,5719,81468103
Rutan Kelas IIA Jakarta Timur4963,14879
Rutan Cipinang Kelas I 4,56928,44358210
Rutan Kelas I Salemba 4,84030,14505335
Total16,063*100,015.070*991*

*1 narapidana menjalani tes ulang dan 1 lainnya tidak memiliki data anti-HCV

Mereka yang dites positif memiliki antibodi anti-HCV dirujuk ke Rumah Sakit Pengayoman yaitu sebuah rumah sakit yang berafiliasi dengan Kementerian Hukum dan Kehakiman Indonesia, tempat para warga binaan akan mendapatkan layanan perawatan kesehatan. Mereka yang dikonfirmasi infeksi Hepatitis C diobati dengan agen antivirus yang disediakan oleh Pemerintah Indonesia.

Diagram di bawah ini menunjukkan jumlah narapidana yang diperiksa untuk Hepatitis C.

Diagram 1. Jumlah tahanan yang diskrining untuk Hepatitis C

Total jumlah warga binaan yang disaring adalah 16.063. 4.840 (30,13%) dari tahanan yang disaring berasal dari Rutan Salemba, 4.569 (28,44%) berasal dari Rutan Cipinang, 496 (3,09%) berasal dari Rutan Pondok Bambu, 1.571 (9,78%) berasal dari Lapas Salemba, 328 (2,04%) berasal dari Lapas Pondok Bambu, 2.004 (12,48%) berasal dari Lapas Narkotika, dan 2.255 (14,04%) berasal dari Lapas Cipinang. Ringkasan dari persentase warga binaan yang disaring disajikan di bawah ini.

Diagram 2. Persentase tahanan yang diskrining


Berdasarkan klasifikasi kelamin, ada 15.239 narapidana pria (94.9%) dan 824 narapidana wanita (5.1%) ikut serta dalam tahap penyaringan.

Diagram 3. Persentase tahanan yang diskrining (berdasarkan jenis kelamin)



Sebagai bagian dari penyaringan, kami juga menanyakan apakah para napi memiliki riwayat menjadi penasun dan apakah mereka sudah dites HIV. Responsnya dilaporkan sendiri. Diagram di bawah ini menyajikan ringkasan dari temuan.

Diagram 4. Status dan riwayat HIV yang dilaporkan sebagai penasun

Ilustrasi di atas menunjukkan bahwa 6% (n = 953) dari narapidana melaporkan riwayat menjadi penasun. Selain itu, sekitar 1,9% (n = 305) dilaporkan HIV positif. Karena itu, sekitar 4% (n = 642) dari warga binaan mengaku tidak pernah dites HIV.

Lebih lanjut, kami melakukan tabulasi silang status HIV yang dilaporkan dan riwayat menjadi penasun dan menemukan hasil berikut:

a. Di antara mereka yang melaporkan riwayat menjadi Penasun (n = 953), 33,9% (n = 323) di antaranya adalah positif dalam skrining Hepatitis C.

b. Di antara mereka yang melaporkan HIV positif (n = 305), 43,9% (n = 134) di antaranya positif dalam skrining Hepatitis C.

Ringkasan perawatan Hepatitis C untuk tahanan berdasarkan data keseluruhan disajikan di bawah ini.

Diagram 5. Tabel waterfall perawatan hepatitis C untuk tahanan di Jakarta, Indonesia

Diagram di atas menunjukkan bahwa di antara para warga binaan disaring di 7 lembaga pemasyarakatan yang berbeda di Jakarta, 6,17% (n = 991) dari warga binaan telah diskrining positif untuk Hepatitis C. 89% (n = 878) dari mereka yang diskrining positif memiliki tes VL lebih lanjut, dan 85% (n = 745) dari mereka yang memiliki tes lanjutan, VL mereka terdeteksi. Akhirnya, di antara mereka yang memiliki VL terdeteksi, 62,42% (n = 465) di antaranya dirawat karena Hepatitis C. Sampai sekarang, bahkan dengan wabah Covid-19, lebih dari setengah (62,42%) dari warga binaan yang telah menerima tes konfirmasi viral load telah memulai pengobatan. Sampai titik ini, kita bisa menyimpulkan bahwa eliminasi mikro di berbagai lapa sangat mudah ditiru dan proyek implementasi mungkin juga bermanfaat untuk ditiru oleh negara lain. Proyek percontohan ini telah dipresentasikan pada konferensi tahunan Asosiasi Asia-Pasifik ke-29 untuk Studi Hati (APASL 2020); yang diselenggarakan di Indonesia pada bulan Maret 2020.

For english redacted transcript

Transcript report on Koalisi Satu Hati project for Hepatitis C virus micro-elimination project in 7 prisons and detention centers in Jakarta