Audiensi dengan Dirjen Farmalkes


8 Juli 2019

Yayasan Koalisi Satu Hati yang menjalin kerja sama erat dengan Kementrian Kesehatan RI, kali ini meminta audiensi dengan Direktorat Farmalkes untuk membahas tentang stock-out obat Sofosbuvir yang sudah berlangsung sejak Januari 2019.

Dra. Engko Sosialine Magdalene, Apt., M.Biomed, selaku Direktur Jenderal Kefarmasian dan Alat Kesehatan, menerima Yayasan Koalisi Satu Hati di Ruang Rapat 214A Lantai 2 Gedung Adhyatma Kementerian Kesehatan, Jakarta untuk membicarakan lebih lanjut tentang masalah ketersediaan Sofosbuvir untuk masyarakat luas.

Sekilas mengenai sofosbuvir:

Sofosbuvir merupakan terobosan yang cukup baru (pada waktu artikel ini dibuat) dalam pengobatan Hepatitis C kronis yang biasanya dikombinasikan dengan ribavirin dan/atau PEG interferon alfa, dan/atau ledipasvir yang bisa digunakan untuk pengobatan Hepatitis C genotipe 1,2,3,4,5 dan 6. Sofobuvir merupakan obat yang efektif juga untuk ko-infeksi Hepatitis/HIV-1.

Interaksi:
Amiodaron atau penurun ritme jantung: risiko blok jantung dan bradikardi berat, induktor P-gp di usus (rifampisin, rifabutin, rifapentin, karbamazepin, fenobarbital, fenitoin, oksarbazepin, modafinil): menurunkan kadar sofosbuvir dalam plasma (menurunkan efek terapi), inhibitor P-gp dan/atau BCRP (Breast Cancer Resistance Protein): meningkatkan kadar sofosbuvir dalam plasma, penghambat HIV protease (tipranavir, ritonavir): menurunkan kadar sofosbuvir dalam plasma

Kontraindikasi:
Hipersensitivitas, kehamilan atau berencana hamil, pria dengan pasangan wanita yang sedang hamil, penggunaan bersama dengan rifampisin, rifabutin.

Efek Samping:
Sangat umum: demam, diare, mual, muntah, insomnia, rasa lelah, iritabilitas, menggigil, Influenza-like syndrome, nyeri, sakit kepala, pusing, ruam, pruritus, penurunan nafsu makan, pegal, artralgia, mialgia, sesak napas, batuk, anemia, neutropenia, penurunan jumlah platelet, limfosit, dan hemoglobin, peningkatan bilirubin, astenia. Umum: perubahan mood, depresi, ansietas, gelisah, pandangan kabur, penurunan daya ingat, gangguan konsentrasi, migrain, penurunan berat badan, rasa tidak nyaman pada perut, konstipasi, dispepsia, mulut kering, GERD, kulit kering, alopesia, nyeri punggung, kejang otot, nyeri dada, nasofaringitis, sesak napas eksersional (dyspnoea exertional).

sumber: Pusat Informasi Obat Nasional – Badan Pengawas Obat dan Makanan

Pembelian sofosbuvir di Indonesia sekarang dilakukan melalui e-catalogue di laman Lembaga Kebijakan Barang/Jasa Pemerintah. Namun sayangnya, pembelian tidak bisa dilakukan (tautan tidak bisa di aktivasi) karena harga belum di-update oleh LKPP.

Lembaga Kebijakan Barang/Jasa Pemerintah yang menyediakan sofosbuvir merupakan lembaga yang dalam prakteknya berkedudukan sebagai Lembaga Pemerintah Non Kementerian (LPNK) dan bertanggungjawab langsung kepada Presiden RI. Dalam menjalankan tugas dan fungsinya, LKPP di bawah koordinasi Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas. Selain itu juga LKPP melakukan koordinasi horisontal dengan Kementrian Keuangan RI.

Dalam kesempatan kali ini Ibu Engko membuat keputusan dalam audiensi ini untuk membawa usulan Yayasan Koalisi Satu Hati ke LKPP untuk segera ditindak lanjuti agar sofosbuvir bisa tersedia kembali.