Eliminasi mikro Hepatitis C dalam berbagai Lembaga Permasyarakatan di Jakarta


Laporan Riset Serologi dalam Riset Kesehatan Dasar tahun 2013 menunjukkan bahwa proporsi Hepatitis C pada golongan dewasa di Indonesia mencapai 1.1% dari total penduduk di Indonesia. Itu berarti ada hampir 3 (tiga) juta penduduk yang diperkirakan terinfeksi oleh virus Hepatitis C di Indonesia. Di Indonesia, strategi pro aktif untuk screening atau testing belum tersedia dengan faktor di antara lain adalah kekurangan dana yang berasal dari Pemerintah sendiri.
Prioritas penanganan Hepatitis C di dalam Kementerian Kesehatan belum mencapai level yang diinginkan, walaupun telah diperjuangkan didalam Rencana Strategis Nasional setiap 4 tahun.
Kekurangan data epidemiologis tentang Hepatitis C dan kurangnya kesadaran mengenai Hepatitis C juga merupakan faktor penting mengapa Hepatitis C belum menjadi prioritas teratas. Namun upaya advokasi telah ditempuh oleh berbagai komunitas telah menarik perhatian pemerintah. Sebagai hasilnya, pemerintah telah membentuk Sub Direktorat yang didedikasikan untuk Hepatitis yang sebelumnya merupakan bagian unit kecil dari divisi Gastrointestinal.

Saat ini, Yayasan Koalisi Satu Hati terlibat dalam dan menjadi pelopor dalam upaya pengumpulan data dan eliminasi virus Hepatitis C di Indonesia, yang dimulai dengan skala mikro yang bertujuan untuk membangun momentum secara nasional yang bisa menginspirasi program yang lebih ambisius. Program yang menjadi prioritas bagi Yayasan Koalisi Satu Hati sekarang ini adalah program diagnosa dan pengobatan virus Hep-C di beberapa Lembaga Permasyarakatan khususnya di Jakarta. Program ini merupakan yang pertama kali diadakan di Indonesia yang bertujuan untuk menyediakan data dan bukti yang relevan bagi objektif pembuat kebijakan, pemerintah serta organisasi kesehatan publik, yang sejajar dengan tujuan dan mengurangi beban WHO untuk mengeliminasi HCV di dunia.

Ikuti kelanjutan Program ini melalui Timeline kerja Koalisi Satu Hati.

Maret 2019

Persiapan dan rapat koordinasi dengan: Kementrian Hukum dan HAM, prescribing clinicians dari RSU Pengayoman, dan 6 Dokter Klinik.

April – Juli 2019

HCV Screening menggunakan antibodi kepada 17.000 narapidana (sekitar 100 narapidana per hari)

April – Juli 2019

Konfirmasi tes bagi 20% dari 17.000 narapidana

April – Juli 2019

APRI Scoring kepada 75% dari 3.400 naripidana..

April – Desember 2019

Pengobatan menggunakan DAA kepada 2.550 narapidana.

April – Desember 2019

Merekam dan pelaporan.

Januari 2020

National Dissemination Workshop.

Februari 2020

Laporan akhir.